Pengaruh Penggunaan Antibiotik terhadap Kasus Stevens Johnson Syndrome

Penulis

  • Reva Dwi Yanty
  • Rasmi Zakiah Oktarlina

Abstrak

Antibiotik memiliki kemampuan untuk melukai atau membunuh mikroorganisme penginvasi tanpa melukai sel inangnya. Penggunaan obat antibiotik haruslah digunakan secara rasional meliputi tepat dalam hal indikasi, tepat pasien, tepat dosis, tepat obat dan tepat cara dan lama penggunaan. World Health Organization (WHO) menerima laporan bahwa masih terdapat penggunaan obat yang tidak rasional. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dan tidak tepat dosis, dapat menggagalkan terapi pengobatan yang sedang dilakukan. Efek dari interaksi yang dapat terjadi cukup beragam, hipersensitivitas dan toksisitas termasuk dalam efek samping antibiotik secara langsung. Hipersensitivitas yang dimediasi kompleks imun yang disebabkan oleh obat-obatan biasanya menimbulkan kelainan Stevens Johnson Syndrome. Stevens Johnson Syndrome (SJS) merupakan kumpulan gejala klinis mucocutaneus eruption berupa kelainan pada kulit, mukosa dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat yang bersifat mengancam jiwa. Banyak penelitian yang dilakukan mengenai SJS, diketahui bahwa obat-obatan adalah etiologi utama yang dapat terjadi pada orang dewasa atau anak-anak. Gejala SJS muncul tidak lama setelah obat disuntikkan atau diminum, gejala yang ditimbulkan sangat ditentukan oleh reaksi tubuh pasien dan tidak berhubungan langsung dengan dosis obat yang dikonsumsi. Terdapat lebih dari 100 obat yang dikenal sebagai penyebab SJS. Obat golongan antibiotik memiliki peran dalam meningkatkan angka kejadian SJS. Antibiotik diduga sebagai penyebab tersering pada kasus SJS, antara lain penisilin, amoksisilin, rifampisin, sefadroksil, dan siprofloksasin.

Unduhan

Kata Kunci:

Antibiotik, hipersensitivitas, Stevens Johnson Syndrome